Masyarakat Pers Makassar

Masyarakat Pers Makassar

Gutenberg menemukan mesin cetak Sekitar tahun 1450, seorang Jerman bernama Johann Gutenberg berhasil menemukan sebuah mesin cetak buku. Mungkin karena sehari-hari dia bekerja di sebuah percetakan buku, maka kemudian dia berusaha -dan akhirnya berhasil- menemukan mesin yang membuat proses pencetakan buku menjadi berkali-kali lebih cepat dari sebelumnya. Sebelum Gutenberg menemukan mesin cetak itu, memperbanyak buku biasa dilakukan dengan cara ditulis tangan atau dengan membuat cetakan dengan ukiran pada kayu. Satu lempengan kayu untuk cetakan satu halaman buku. Bisa dibanyangkan, berapa lama waktu yg dibutuhkan untuk mencetak satu buku. Dan bisa dibayangkan juga, betapa besar cost untuk mencetak buku. Hingga akhirnya, Johann Gutenberg berhasil menemukan mesin cetak buku.

Sebelum alquran di cetak maka :

3. Penulisan dan Pengumpulan AI-Quran pada Zaman Rasulullah s.a.w,
Menurut Ahli Sejarah, penulisan al-Quran bermula dari zaman Nabi Muhammad s.a.w. di

mana sebaik sahaja Rasulullah s.a.w. menerima wahyu, Baginda mengarahkan penulis-penulis

wahyu mencatatkan ayat-ayat al-Quran yang diterimanya.
Antara penulis wahyu Baginda Rasulullah s.a.w. ialah Khulafa' al-Rasyidin yang empat

iaitu Saiyidina Abu Bakar al-Siddiq, Saiyidina Umar bin al-Khattab, Saiyidina Uthman bin Affan

dan Saiyidina Ali bin Abi Talib r.a. serta sahabat Baginda yang lain seperti Saiyidina Zaid bin

Thabit, Ubai bin Ka'ab, Thabit bin Qais r.a. dan lain-lain.
Oleh kerana pada masa itu ketiadaan kertas, maka para penulis wahyu telah mencatatkan

ayat-ayat al-Quran tersebut pada pelepahpelepah tamar, kepingan batu, tulang dan lain-lain

bahan tulisan. Catatan tersebut disalin semula oleh sebahagian sahabat walaupun kebanyakan

mereka lebih mengutamakan hafazan.

Lalu setelah nabi muhammad saw wafat maka :
Dalam peperangan

tersebut ramai tentera Islam yang menghafaz al-Quran telah gugur syahid. Sejarah mencatatkan

sehingga 700 orang yang menghafaz al-Quran telah gugur syahid dalam peperangan tersebut."
Peristiwa berkenaan telah mendorong Saiyidina Umar bin al-Khattab r.a. beberapa kali

mencadangkan kepada Khalifah Abu Bakar al-Siddiq r.a. supaya diadakan usaha pengumpulan

al-Quran kerana dibimbangi al-Quran akan terhapus dengan sebab ramai Qurra' yang gugur

syahid.
Akhirnya Khalifah Abu Bakar al-Siddiq r.a. bersetuju dengan cadangan tersebut dan

mengarahkan Saiyidina Zaid bin Thabit r.a. menyalin al-Quran yang telah ditulis dan dihafaz

pada zaman Rasulullah s.a.w. dengan dibantu oleh beberapa orang sahabat yang lain.

usaha tersebut maka terkumpullah al-Quran yang pertama dalam bentuk lembaran suhuf.
Setelah Saiyidina Abu Bakar al-Siddiq r.a. wafat, suhuf tersebut telah disimpan di rumah

Saiyidina Umar bin al-Khattab r.a. dan apabila Saiyidina Umar bin al-Khattab r.a. wafat,

lembaran suhuf itu telah disimpan pula oleh Ummul Mukminin Saiyidatina Hafsah binti Umar

al-Khattab r.a.

Dan
bacaan itu telah diterima dari Baginda Rasulullah s.a.w. secara
mutawatir
.
Usaha-usaha pengumpulan al-Quran yang dilakukan pada zaman Khalifah Uthman bin

Affan telah mendatangkan faedah yang besar kepada umat Islam terutamanya dari segi:
i. Dapat menyelamatkan umat Islam dari perpecahan.
ii. Dapat menyelesaikan perselisihan kaum muslimin tentang penulisan al-Quran.
iii. Dapat menyatukan bentuk mushaf yang seragam melalui ejaan dan tulisan.
iv. Dapat menyatukan wajah-wajah qiraat melalui satu mushaf.
v. Dapat menyelaraskan susunan surah-surah menurut tertib seperti yang ada sekarang ini.

Selanjutnya :
Di sempurnakan.
Tahap Penulisan AI-Quran
Penulisan al-Quran Rasm Uthmani seperti yang terdapat sekarang ini melalui tahap-tahap

berikut:
i.
Tahap Pertama
: Belum diletakkan sebarang tanda.
ii.
Tahap Kedua
: Ditandakan titik (
بارعلا ةطقن
) yang dipelopori oleh/Abu al-Aswad al-Duali
(meninggal dunia pada tahun 69 Hijrah pada zaman Khalifah Marwan bin al-Hakam).
iii.
Tahap Ketiga
: Mula ditandakan dengan titik (
ماجعلا ةطقن
) yang dipelopori oleh Yahya bin
Ya'mar dan Nasyr bin 'Asim al-Laisy dengan perintah Gabenor Iraq iaitu al-Hajjaj bin Yusof
al-Thaqafi,
iv.
Tahap Keempat
: Mula diletakkan dengan tanda-tanda baris (
harakah
) yang dipelopori oleh
al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi pada zaman pemerintahan Abbasiyah iaitu Khalifah Abdul
Malik bin Marwan.
v.
Tahap Kelima
: Ditambah dengan tanda-tanda waqaf dan lain-lain tanda lagi.
Tulisan al-Quran dengan menggunakan Khat Nasakh mula dicetak buat pertama kalinya di

Hamburg, Jerman pada tahun 1694 Masihi (1113 Hijrah) dan seterusnya dicetak di negara-negara

Islam yang lain sehingga ke hari ini.

Kembali mengikuti sejarah tulisan :
23 April adalah Hari Buku Sedunia, dittapkan oleh UNESCO.Tulisan yang beraturan secara alfabet ditemukan tahun 1800 SM di Mesir. Pada zaman Mesir Kuno memakai daun dari tunbuhan papirus untuk menulis, buktinya ditemukan pada Dinasti Kelima, buku tentang Raja Neferirkare Kaki sekitar 2400 SM. Berbentuk gulungan yang juga dipakai di Yunani, Romawi, Cina,dll.Codex, kumpulan naskah kuno yang hampir semua isinya tentang ajaran agama. Codex bisa dipakai ulang karena berbentuk blok kayu yang dilapisi lilin.Kemudian papirus digantikan Manuskrip- kulit binatang yang sampuilnya terbuat dari kayu. Tulisannya mulai rapi dan semuanya ditulis tangan.San buku pertama yang dicetak pertama sebelum tahun 1905 bernama Incunabulum. Buku ini sudah dicetak, terdiri dari dua jenis, Block Book/Xylographic yang terbuat dari satu pahatan dan tipografi, cetakan yang ditekan dan dapat digerakkan.Pembuatan kertas dimulai pada abad ke-11 dan dipakai secara massal pada abad ke-16.Sebenarnya, kertas kuno sudah ditemukan tahun 200 SM di Cina yang juga merupakan salah satu dari empat penemuan besar Cina.Mulai abad ke-18 dan 19 buku masin memakai bahan gabungan seperti sutera  dan banyak dipakai pada 1850-1880an

Perjalanan alphabet menjadi tulisan:

Di bahagian lain alphabet Sinai telah pula menurunkan tulisan Devanagari kuno di India. Kita telah mengetahui bahwa banyak sekali tulisan yang terdapat di kawasan Asia selatan dan tenggara berasal dari tulisan Devanagari ini, karena tulisan ini berkembang seiring dengan penyebaran agama Budha. Tulisan kuno di India. Kita telah mengetahui bahwa banyak sekali tulisan yang terdapat di kawasan Asia selatan dan tenggara berasal dari tulisan Devanagari ini, karena tulisan ini berkembang seiring dengan penyebaran agama Budha. Tulisan Siryani dan Nabthy dalam perjalanannya ke bahagian selatan jazirah Arab telah bergabung dengan karakter tulisan yang berasal dari jazirah selatan ini, terutama pada masa perluasan kerajaan Anbath ke hampir seluruh jazirah Arab pada abad pertama Masehi. Penggabungan inilah yang pada akhirnya menurunkan tulisan Arab kuno hingga menjadi tulisan Arab seperti yang berkembang saat ini.2. Jazirah Arab SelatanPerjalanan alphabet Sinai ke bahagian selatan jazirah Arab telah mengembangkan tulisan yang terdapat di kerajaan-kerajaan Arab Selatan, seperti kerajaan Saba`, Minaiyah dan lain-lain. Hanya saja tidak diperoleh keterangan yang pasti tentang tulisan yang digunakan oleh masyarakat di kerajaan Arab selatan ini pada waktu sebelumnya. Beberapa asumsi mengatakan bahwa tulisan yang digunakan masyarakat Arab pada waktu itu berasal dari tulisan Demotic (tulisan rakyat Mesir kuno). Setelah masuknya alphabet Sinai ke wilayah ini, barulah dikenal satu jenis tulisan yang telah menggunakan sistem alphabet, dan banyak persamaan bentuk dan karakter hurufnya dengan alphabet Sinai, sebagaimana dapat diperhatikan pada tabel terdahulu. Tulisan Arab selatan ini kemudian dikenal dengan Musnad.Bila diperhatikan lebih jauh bentuk dan karakter lambang huruf Musnad, maka makin kuat dugaan bahwa karakter Sinai lebih banyak mewarnai pembentukan lambang huruf-hurufnya, dibanding dengan tulisan asli masyarakat Arab selatan yang dianggap sudah ada itu. Kenyataan itu agaknya juga memperkuat dugaan bahwa setidaknya Arab selatan mendapat pengaruh dari alphabet Sinai dalam waktu yang bersamaan dengan Phoenicia. Namun sementara ahli telah berkesimpulan lain, yaitu bahwa alphabet Arab selatan merupakan perkembangan dari alphabet Phoenicia yang dibawa ke wilayah ini melalui jalur perdagangan. Perkembangan tulisan Musnad ke utara pada akhirnya bergabung dengan tulisan-tulisan Semit utara dan melahirkan tulisan Arab kuno (Hyry). Tulisan-tulisan Arab itu, setelah agama Islam lahir, ternyata memperoleh perhatian khusus bagi penganutnya. Karena itu, tulisan ini akhirnya makin berkembang dan meluas dengan pesat bahkan melampaui batas-batas wilayah yang menggunakan bahasa Arab. Bersama Al-Qur`an, tulisan Arab telah meluas ke berbagai bangsa dan bahasa, seperti Fula, Hausa dan Swahili di Afrika, Melayu, Sunda dan Jawa di Indonesia, bangsa Moro di Phillipina, Urdu dan Punjabi di India, Persia di Iran dan pelbagai bahasa Turki di Uni Sovyet (Mario Pei,1971:81). Dari Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dari akar alphabet Sinai telah melahirkan dua bentuk tulisan besar yang digunakan secara luas hingga saat ini, yaitu tulisan Romawi --yang pada akhirnya dikenal dengan tulisan Latin--, dan tulisan Arab. Kedua bentuk tulisan ini, kendatipun sama-sama berasal dari rumpun yang sama, yaitu Sinai, tapi dalam perkembangannya terdapat perbedaan-perbedaan yang prinsipil pada karakter huruf dan cara penulisan. Dalam tulisan Romawi, lambang-lambang konsonan dan vokal memperoleh tempat yang sama pada penulisan, sementara pada tulisan Arab --seperti juga tulisan Ibrany dan Siryani (Semit utara)-- , lebih menonjolkan huruf (lambang) konsonan saja, sedangkan lambang vokalnya diserahkan sepenuhnya pada pengertian pembaca. Barulah pada perkembangan akhir (setelah Islam), lambang vokal dicantumkan pada penulisan, akan tetapi berupa tanda-tanda khusus yang ditempatkan di atas atau di bawah lambang konsonan. Perbedaan lainnya ialah bahwa tulisan Arab ditulis dari kanan ke kiri, sedangkan tulisan Romawi ditulis sebaliknya

Awal peradaban setelah keyakinan terhadap pencipta sebelum agama disempurnakan,dimulai dengan sejarah tulisan yg mengartikan era "peradaban" manusia.

Tulisan tertua masyarakat purba telah melahirkan dua jalur proses perkembangan sistem penulisan. Jalur Phonetis --yang pada akhirnya menjadi tulisan alphebetis-- adalah pilihan bagi sistem menulis yang dikembangkan oleh dua pusat peradaban tertua di kawasan Asia Barat (Timur Tengah), yakni Mesir dan Mesopotamia. Sedangkan bangsa Tionghoa di kawasan Timur Jauh tetap mempertahankan sistem pelambangan gambar (pictografis-ideografis) dalam penulisan mereka, bahkan sampai saat ini.Pada bagian ini akan dikemukakan bagaimana perkembangan kedua tulisan yang disebutkan pertama (Mesir dan Mesopotamia), yang akhirnya menjadi tulisan alphabetis dan memiliki wilayah pengembangan yang sangat luas hingga saat ini. Dari rumpun ini pula dilahirkan tulisan Arab, sebagai yang akan menjadi perhatian utama pada tulisan ini.AlphabetIstilah alphabet sebetulnya berasal dari bahasa Semit. Istilah ini terdiri dari dua kata, yaitu aleph yang berarti 'lembu jantan' dan kata beth yang berarti 'rumah'. Konotasi pictografis dari pengertian kedua kata ini menjadi sebutan untuk menunjukkan huruf pertama a (aleph) dan b (beth) dalam urutan huruf-huruf semit (Mario Pei,1971:176). Ini bukan berarti bahwa tulisan tersebut memakai sistem pictografis-ideografis, akan tetapi malah sebaliknya. Orang-Orang Semit mengambil tanda gambar lembu (kepala lembu) dari huruf Hierogliph Mesir tanpa memperdulikan pengertian lembu itu dalam bahasa Mesir sendiri, sedangkan menurut bahasa Semit, lembu itu disebut aleph. Demikian juga dengan tanda gambar rumah yang mereka sebut beth. Kemudian dengan mempergunakan prinsip akroponi, tanda gambar kepala lembu, oleh masyarakat Semit dijadikan tanda untuk bunyi a dan tanda gambar rumah untuk bunyi b. Semua huruf pada alphebt Semit mempunyai konotasi seperti pictografis itu. Daerah yang Mula-Mula Menggunakan Sistem Alphabet.

Mengacu dari hal ini maka :
Kembali kita coba mengingat saat "mushaf" Alquran dikumpulkan:menjadi buku
Tulisan-tulisan Qur’an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain. Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, di antaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Mas’ud telah menghafalkan seluruh isi Qur’an di masa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid bin Tsabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Qur’an di hadapan Nabi, di antara mereka yang disebutkan di atas.Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah di saat Qur’an telah dihafal dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan di atas, ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan atau diterbitkan ayat-ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara terpisah dalam tujuh huruf.Tetapi Qur’an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh (lengkap). Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra’ dan ditulis para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Di samping itu terkadang pula terdapat ayat yang me-nasikh (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Qur’an itu tidak menurut tertib nuzul-nya (turun), tetapi setiap ayat yang turun dituliskan di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu.Andaikata pada masa Nabi SAWQur’an itu seluruhnya dikumpulkan di antara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi.Az-zarkasyi berkata, “Qur’an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudah Qur’an turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah.”Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit yang mengatakan, “Rasulullah SAW telah wafat sedang Qur’an belum dikumpulkan sama sekali.” Maksudnya ayat-ayat dalam surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.Al-Katabi berkata, “Rasulullah tidak mengumpulkan Qur’an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya. Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar radhiyalahu ‘anhum

Dan : untuk mencari asal usul alquran menjadi "rangkuman intisari ilmu yg diturunkan dan kejadian yg terjadi dalam sejarah pengenalan terhadap sang maha penciptan ,dan ajaran yang disempurnakan untuk menjalankan kehidupan didunia maka ;
Kita melihat dari awal sebelum ada Alquran : yakni
Kita suci umat hindu
kitab Sucinya adalah Weda.Sebelum dibukukan , Weda itu di tulis dalam daun lontar. Krn saat itu belum ada buku/kertas. Kemudian disisi lain yang pada jaman batu tua / batu muda Weda ada yang di torehkan di atas batu. kemudian setelah jaman kertas baru mungkin Weda itu di tulis di atas kertas yang dijilid seperti sekarang menjadi buku.
Evolusi manusia _Alam_Keyakinan Agama _dan semuanya telah disempurnakan dan diakui keberadaan ilmu alamiah(yg bersumber dari alam -Tuhan melalui keimanan dan intelegensi manusia yg berkembang sesuai jaman)
Dan AGAMA pun semakin memoderenkan diri !namun dalam Agama Islam yg disempurnakan semua bisa berkembang sesuai jaman namun tetap disesuaikan dengan Koridor Norma Juga Budaya yang islami yg memiliki "self respect" dan penghargaan secara alamiah dan pemahaman yang bersumber dari hati jiwa yg telah islam. (Dan hanya Allah SWT yang mengerti qadhar keimanan dari tiap manusia yg hidup)

Jejak awal dari peradaban manusia lahir dari ketidak beradaban, dan keyakinan lahir dari tidak adanya keyakinan, dan bila masih saja dunia menyakan dimana berawal satu kehidupan manusia (nenek moyang manusia) dan di mana berawal satu "kepercayaan kepada sang maha kuasa" yang menjadi satu "keyakinan" yg diyakini dan dipercaya adalah semua berawal dari benua asia - dan akan kembali ke asia. Dan inti segala dimulai dalam kehidupan manusia pra sejarah hingga mengawali sejarah manusia adalah di asia . Jejak alam jelas dan nyata bahwa peradaban lampau di mulai dari pulau jawa.
Sejarah tulisan dimulai dari nenek moyang kita sperti yg terangkum dalam buku tsb.

Referensi akan kita dapatkan dari beberapa sumber yg sudah melakukan riset dan penelitian dan cukup diyakini .
Dalam buku Babad Misteri Kabut Caringin Kurung ini kita bisa mengetahui banyak hal yang sebelumnya tidak kita ketahui, misalnya:
1. Nenek moyang bangsa kita ternyata berasal dari keturunan Manusia Yaksa (yang bisa dianggap sebagai penduduk asli Nusantara) yang kemudian melakukan perkawinan denganketurunan India dan Cina. Dalam buku ini diceritakan postur tubuh dari manusia Yaksa, perilaku dan kehidupan sehari-sehari mereka. Manusia Yaksa ini sudah berada di Nusantara sejak 10.000 tahun sebelum tahun Saka. Bahkan diceritakan juga kehidupan manusia purba sekitar sejuta tahun yang lalu, Manusia Buncang, yang berperilaku mirip hewan. Siapa yang bisa menceritakan tentang manusia purba kita?
2. Sebelum Kerajaan Tarumanegara ataupun Kutai berkuasa di Nusantara ini ada kerajaan besar lain, yaitu Kerajaan Caringin Kurung yang berada di Puncak Manik, Gunung Handalus (yang sekarang dikenal sebagai Gunung Salak, Bogor). Inilah nenek moyang dari bangsa Indonesia. Karena ternyata Raja Mulawarman dari Kerajaan Lunggai (sekarang disebut Kutai)adalah keturunan dari Raja Caringin Kurung ke – 4 dan dia adalah mertua dari Raja Purnawarman dari Tarumanegara. Era Kerajaan Caringin Kurung ini merentang sejak Raja Caringin Kurung ke-I sampai XIII, dari abad 4 sebelum Masehi sampai abad 2 sesudah Masehi. Ini ada periode terlama suatu dinasti berkuasa, yaitu selama 6 abad atau 600 tahun, karena baik Dinasti Majapahit, ataupun Mataram tidak pernah berkuasa secara efektif lebih dari 2 abad. Atas dasar ini keyakinan yang dipercaya saat ini yang mengatakan orang Jawa lebih tua dari orang Sunda adalah tidak benar, karena terbukti nenek moyang orang Jawa justru berasal dari Bogor, Jawa Barat.
3. Buku ini mengungkapkan bahwa pada masa awal abad Masehi, nenek moyang kita sudah mempunyai bahasa baca tulis, yaitu Bahasa Karan dengan Huruf Darung. Bahkan kamus singkat Bahasa Karan – Indonesia juga disertakan dalam Buku Babad Misteri Kabut Caringin Kurung ini, untuk memberikan gambaran kepada kita tentang Bahasa Karan ini seperti apa, termasuk abjad Aksara Darung-nya. Huruf atau Aksara Darung benar-benar asli Indonesia dan dalam perkembangan selanjutnya saling mempengaruhi dengan Huruf Palawa. Sehingga tidak heran banyak ahli sejarah bingung membaca prasasti kuno yang ada, karena tulisannya bukan hanya berhuruf Palawa tetapi juga berhuruf Darung yang tidak dikenal oleh para ahli sejarah. StrukturBahasa Karan sendiri sama dan mirip dengan struktur Bahasa Indonesia sekarang ini. Ini sesuatu yang wajar karena bahasa Indonesia memang merupakan metamorfosis dari Bahasa Karan. Melalui Buku ini, dimana kamus Terjemahan Bahasa Karan dan Indonesia disertakan, terbuka kemungkinan untuk menghidupkan kembali Bahasa Karan sehingga bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari saat ini.4. Ternyata Agama Hindu justru berkembang di Indonesia terlebih dulu, sebelum kemudian menyebar meluas di India. Pada abad ke 4 – 5 Masehi, baik di era Kerajaan Tarumanegara ataupun Kerajaan Lunggai, dimana rajanya merupakan pemeluk Agama Syiwa yang fanatik, ternyata hewan sapi waktu itu belum menjadi mahluk yang sakral seperti sekarang ini oleh pemeluk Agama Hindu, karena mereka justru melakukan kurban dengan ratusan sapi. Walaupun demikian Raja-raja Caringin Kurung tetap saja berpegang kepada keyakinan nenek moyangnya yaitu mempercayai Animisme yang percaya kepada kekuatan alam makrokosmos maupun mikrokosmos.5. Buku ini menceritakan pula tentang kehebatan dan kesaktian nenek moyang kita, termasuk awal muasalnya suatu ilmu.

@peradaban Manusia dimulai di tanah air kita sendiri (benua asia-nusantara-jajaran pulau2kita)

Manusia Yaksa ini, hidup pada 100.000 tahun yang silam, jauh sebelum Tarikh Saka, dan banyak tersebar di pulau Jawa, baik di Jawa Timur–Jawa Tengah–maupun Jawa Barat. Pada 70.000 tahun sebelum Tarikh Saka ( 69.922 SM), keturunan Manusia Yaksa ini banyak mengalami penderitaan akibat kelaparan dan kehausan. Mereka semua mengalami masa-masa yang sulit.
Peristiwa pembantaian yang dilakukan oleh para kaum pendatang atas Manusia Yaksa itu, terjadi pada periode 50.000 tahun sebelum Tarikh Saka (49.922 SM). Para kaum pendatang ini tidak mengetahui, ada dua puluh enam orang dari Manusia Yaksa ini yang lolos dari pembantaian mereka, yakni terdiri dari lima belas orang laki-laki dan sebelas orang wanita. Dikarenakan takut dibunuh oleh para kaum pendatang Manusia Yaksa yang tersisa itu melarikan diri dan pindah ke Jawa Barat, tepatnya di kaki Gunung Salak–Bogor, dan bergabung dengan Manusia Yaksa lainnya disana. Sisa dari Manusia Yaksa yang berjumlah dua puluh enam orang itu akhirnya tiba di Jawa Barat kemudian kawin dengan Manusia Yaksa setempat sampai beranak-pinak. Disini ada suatu perbedaan yang amat menyolok sekali yakni mengenai postur tubuh. Manusia Yaksa yang berada atau yang tinggal di Jawa Barat ini, tidaklah buas dan ganas seperti halnya Manusia Yaksa yang tinggal di Jawa Timur maupun di Jawa Tengah.  Ukuran tubuh dari Manusia Yaksa yang berada di Jawa Barat itu, tidak kecil dan bahkan normal seperti ukuran tubuh manusia sekarang ini, cuma sifat-sifat primitif masih tetap terlihat pada Manusia Yaksa yang hidup dan bertempat tinggal di Jawa Barat
Jelas manusia itu berevolusi dengan lingkungan dan jaman.




Manusia adalah sifat umumnya adalah :
Peniru -Pengikut- bodoh dan ingin tau- lalu pertama belajar dari lingkungan dimana merka berawal hidup dan bersosialisasi, manusia lampau,adalah manusia yg tidak beradab dan belum tepat bila kita menyebutkannya "manusia"
Manusia yg di tuliskan dalam sejarah agama adalah manusia yg "beradab" dan mempunyai kehidupan yg layak.
Manusia pertama yg sempurna adalah ADAM.
Yang berjiwa : patuh pada ajaran dan Perintah.

Penyusunan Alquran semuanya akan tersusun dengan benar hanya dengan pemahaman yang cukup dan intelegensi yang cukup

Semua itu tersusun berawal dari mereka yang mengerti bahwa apa yang menjadi kesucian harus tetap terjaga untuk itu di susun bukan tanpa rencana -Nya.

Susunan Al-Qur'an yang Unik Ditulis oleh Dewan Asatidz    Mengapa urutan ayat-ayat Alqur`an tidak dituliskan berdasarkan waktu turunnya kepada Rasulullah Muhammad saw?(mengapa tidak surah Al-Alaq sebagai surah pertama?). Lantas, bagaimana proses pengelompokan ayat-ayat Alqur`an dilakukan? (meliputi penamaan surah-surah Alqur`an dari mana sumbernya dan bagaimana pengurutannya; penentuan juz-juznya, tanda waqafnya). Bagaimana penentuan suatu ayat dimansukh oleh ayat lainnya? Tanya Jawab (418) Susunan Al-Qur'an yang Unik ------- Tanya ------- Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya mempunyai beberapa masalah/pertanyaan yang masih bingung mencari jawabannya, yaitu: 1. Mengapa urutan ayat-ayat Alqur`an tidak dituliskan berdasarkan waktu turunnya kepada Rasulullah Muhammad saw? (mengapa tidak surah Al-Alaq sebagai surah pertama?) 2. lantas, bagaimana proses pengelompokan ayat-ayat Alqur`an dilakukan? (meliputi penamaan surah-surah Alqur`an dari mana sumbernya dan bagaimana pengurutannya; penentuan juz-juznya, tanda waqafnya) 3. bagaimana penentuan suatu ayat dimansukh oleh ayat lainnya? Terima kasih atas bantuannya. Wassalaamu`alaikum Wr.Wb. Helmy F. _______ Jawab: _______ Assalamualaikum war. wab Sdr. Helmy yang dimuliakan Allah, Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sebagai berikut : Pertama : Al Qur'an diturunkan ke dunia melalui dua tahap : Tahap pertama, diturunkan sekaligus dari "lauhil mahfudz" ke "baitul izzah " di langit dunia sebagaimana susunan yang telah ditetapkan oleh Allah. Tahap kedua, diturunkan dari langit dunia kepada Rasulullah SAW, secara berangsur-angsur sesuai dengan sebab kejadiannya. ( lihat Manahilul irfan, lizzurqani, Jilid:1, hal:44-47 ). Tetapi susunan ayat-ayat dalam Al Qur'an yang ada sekarang, itu memang bukan menurut sejarah turunnya, melainkan atas dasar perintah Allah sama dengan susunann Al-Qur'an yang di "lauhil mahfudz". Imam Ahmad, meriwayatkan bahwa setiap kali turun ayat, Rasulullah s.a.w. memerintahkan para penulis wahyu, seraya bersabda "letakkan ayat ini setelah ayat ini di surat ini "( Musnad Imam Ahmad : Jilid:1, hal:57 ). Banyak riwayat yang menegaskan bahwa Rasulullah mengimami shalat, dengan membaca Al-Qur'an sebagaimana susunan ayat yang ada. Atas dasar ini ijma' ulama menegaskan bahwa susunan ayat-ayat Al-Qur'an murni dari Allah tanpa campur tangan siapapun. ( lihat Manahilul irfan, lizzurqani : Jilid:1,hal:247 ) Begitu juga susunan surah-surah dalam Al-Qur'an, - sekalipun ada perbedaan pendapat, tetapi pendapat yang paling kuat adalah bahwa susunan surah-surah itu berdasarkan wahyu dari Allah SWT, bukan ijtihad para sahabat. Pendapat ini didukung dengan banyak riwayat yang sahih, seperti keterangan bahwa Rasulullah sering membaca dalam shalatnya, beberapa surah secara berurutan seperti susunan yang ada. Rasulullah – sebagaimana riwayat Imam Bukhari - setiap tahun dua kali menyetor hafalan Al-Qur'an dari awal sampai akhir, kepada Malaikat Jibril. Setoran ini tentu secara berurutan sesuai dengan susunan yang ada. Ini juga diperkuat dengan ijma' para sahabat dan kesepakatan jumhurul ulama ( mayoritas ulama ) – terhadap susunan Al Qur'an ada sekarang adalah merupakan bukti yang menguatkan bahwa susunan surah-surah berdasarkan wahyu ( lihat fadhailul Qur'an, libni katsir, 86 ). Kedua : Mengenai pengelompokan ayat dalam setiap surat – sesuai dengan riwayat Imam Ahmad di atas – tentu juga berdasakan wahyu. Bagitu juga nama-nama surah, semuanya sesuai dengan petunjuk wahyu. Demikian pula waqaf per ayat, tidak bisa diketahui kecuali melalui wahyu. ( lihat Manahilul irfan K lizzurqani : jilid:1, hal:340 ). Adapun penentuan juz-juz Al-Qur'an yang tiga puluh jumlahnya, itu bukan dari Sahabat Utsman, karena mushhaf utsmani ( Al-Qur'an yang ditulis di zaman Utsman ) tidak terdapat juz-juz tersebut. Melainkan dari para ulama, dengan maksud untuk mempermudah. Sekalipun dalam hal ini para ulama berbeda pendapat antara boleh dan tidak, namun kemudian dianggap boleh-boleh saja, selama tidak merusak susunan Al-Qur'an yang asli. ( lihat Manahilul Irfan, lizzurqani, Jilid:1, hal:409-410 ). Ketiga : Adapun penentuan suatu ayat dimansukh dengan ayat lainnya, itu tidak melalui ijtihad, melainkan melalui tiga hal berikut : (1)Penegasan dari Nabi SAW atau sahabat r.a. Seperti hadits : " aku dulu pernah melarangmu melakukan ziarah ke kuburan, maka sejak ini silahkan lakukan ziarah kubur tersebut ". (2) Kesepakatan umat bahwa ayat ini nasikh dan yang satunya mansukh. (3) Mengetahui sejarah turunnya, maka yang diturunkan lebih dahulu itulah yang mansukh. ( lihat mabahits fi ulumil Qur'an, limanna' Al Qattan, hal:234 ). Semoga membantu, wassalam Dr. Amir Faishol Fath. Ustadz PV bidang Tafsir dan ilmu-ilmu al-Qur'an

Berbagi Bersama

Berikan balasan

Badge

Sedang Memuat.....

RSS Liputan6

Loading feed

RSS Detikinet

Loading feed

RSS Kompas

Loading feed

RSS Makassar Terkini

Loading feed

RSS Tribun Timur

Loading feed

© 2009   Created by caesarleo on Ning.   Create a Ning Network!

Badges  |  Laporkan Masalah  |  Privasi  |  Terms of Service